JAKARTA, SINAR PENA.COM - Selebgram sekaligus aktris, Ratu Azalia, mengungkap kisah kelam masa lalunya sebagai korban perundungan (bullying) dan dugaan hampir mengalami kekerasan seksual saat masih duduk di bangku sekolah.
Pengakuan tersebut disampaikannya kepada publik sebagai bentuk kepedulian terhadap maraknya kasus perundungan di lingkungan pendidikan.
Perempuan berusia 29 tahun itu menuturkan, peristiwa perundungan dialaminya sekitar delapan tahun lalu ketika masih bersekolah di Bogor, Jawa Barat. Saat itu, ia mengaku kerap menjadi sasaran senior tanpa alasan yang jelas.
“Saya di-bully senior dengan alasan yang tidak jelas. Mulai dari dijambak, dilabrak, sampai dihina,” ujarnya.
Menurut Ratu Azalia, tindakan kekerasan yang diterimanya tidak hanya berupa verbal, tetapi juga fisik.
Ia mengaku kebingungan karena merasa tidak pernah memiliki masalah pribadi dengan pelaku. Namun, aksi perundungan tersebut tetap terjadi dan bahkan berulang.
Ia menjelaskan bahwa latar belakang keluarganya yang kerap berpindah kota mengikuti penugasan dinas sang ayah membuatnya harus sering beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru.
Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang membuatnya rentan menjadi sasaran intimidasi.
Tak hanya terjadi di dalam lingkungan sekolah, Ratu Azalia menyebut intimidasi juga berlanjut hingga di luar area sekolah. Ia menyayangkan sikap sejumlah tenaga pendidik yang dinilainya tidak memberikan respons tegas terhadap tindakan tersebut.
“Guru seperti menutup mata. Jadi perundungan itu tidak pernah benar-benar dihentikan,” ungkapnya.
Setelah lulus SMA, pengalaman pahit itu ternyata belum berakhir. Saat melanjutkan pendidikan di salah satu universitas favorit di Indonesia, ia kembali menghadapi tindakan intimidasi yang disebutnya lebih berat dibanding sebelumnya.
“Waktu kuliah malah lebih parah. Kampus tersebut memang sudah terkenal dengan budaya bully-nya,” tuturnya.
Melalui pengakuan ini, Ratu Azalia berharap masyarakat dan institusi pendidikan lebih serius menangani praktik perundungan yang masih marak terjadi. Ia juga mendorong para korban untuk berani bersuara dan mencari bantuan.
Kisah yang diungkapnya menjadi pengingat bahwa perundungan bukan persoalan sepele, melainkan masalah serius yang dapat berdampak panjang terhadap kondisi psikologis korban. Peran aktif sekolah, kampus, serta lingkungan sekitar dinilai krusial dalam menciptakan ruang belajar yang aman dan bebas dari kekerasan. (ir)/red

Posting Komentar